(Cerpen) Ojek yang tertukar

    Mia berdiri di depan pintu Lobi gedung tempat ia belajar masak hari ini, sembari mengelap butir butir keringat di dahinya dengan sapu tangan merah muda bermotif hello kity ” Duh mama sih, nyuruh gantiin ikutan cooking class, ah ga kekinian banget” gerutunya.  Hari itu memang panas sekali, matahari seakan enggan beranjak dari peraduannya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore.  Mia tampak gelisah. Mahasiswi semester 3 di sekolah tinggi perhotelan itu kebingungan. Akibat buru buru berangkat cooking class, baterai hapenya tidak terisi penuh, sedangkan powerbank lupa dia bawa. Walau sejak kecil tinggal di Pasar Minggu, Mia belum hapal semua kendaraan umum di Jakarta, selama ini selalu diantar jemput oleh papa, mama dan Rio abangnya.

“Mia, kok masih disini?” Salah satu peserta cooking Class menyapanya.
“Eh Tante Rin, iya tante bingung mau pulangnya, batere habis ga bisa telpon bang Rio” Jawab Mia akrab mengenali Tante Rin sebagai salah satu rekan cooking Class mamanya.

“Mau pinjam handhpone tante?”
Mia menggeleng, “Bang Rio suka ga angkat no handphone yang belum dikenali Tan”
“Wah sayang sekali, lalu kamu pulang bagaimana?”
” ya nanti mia ke depan naik taksi aja Tan”
“Sayaaaang, lagi macet begini mahal nanti biayanya, mau pakai ojek online? Bisa tante bantu pesankan”
“Wah mau Tan, mau banget” Jawab mia antusias.
“Ya sudah kalau gitu kita ke shelter depan saja yuk, menunggunya disitu” Mia dan tante Rin beranjak menuju Shelter atau lobi tunggu di pinggir gedung tempat mereka cooking class.

Beberapa peserta cooking class lainnya pun tengah menunggu di shelter.   Salah satunya Liha, gadis berkerudung merah dengan kaos lengan panjang bermotif monochrome.  Liha tadi pasangan Mia saat praktek membuat sosis solo

“Hai Mia, Tante Rin ketemu lagi” Sapa Liha ramah.
“Alhamdulillah, kamu menunggu dijemput juga Liha? ” Suara tante Rin lembut bertanya pada Liha.
“Iya Tan, ini sedang order Ojek Online tan” Liha mengacungkan IPhone model terbarunya, menunjukkan aplikasi ojek online.
“Wah sama Kak Liha, aku juga mau order ojek online, dibantu tante Rin nih” Sahut Mia pula.

Mereka pun asyik mengobrol, terutama tentang menu menu yang sudah mereka praktekkan hari ini.  Saat sedang asyik berbincang, suara berat khas laki laki memecah obrolan mereka.

“Pesan ojek online?” Tanya tukang Ojek yang bahkan belum sempat membuka Helm dan maskernya.

Oh iya betul betul sekali ” Jawab tante Rin, “Mia tuh ojekmu sudah datang ayooo naiklah” Tambahnya lagi.

“Pasar Minggu bang? ” Tanya mia, abang ojeknya mengangguk.

Buru buru mia berpamitan pada Rin dan Liha, dan segera naik ke boncengan si abang ojek.

“Tante Rin, Kak Lihaaaaaa…. Mia duluan ya” teriak mia sembari melambaikan tangan. Dan melajulah ojek yang ditumpangi mia membelah macetnya jalanan sudirman.

 

Pict hanya Ilustrasi

Pict hanya Ilustrasi

Baru 10 menit mia merasa senang, tetiba ia khawatir, karena motor yang ditumpanginya, berjalan berlawanan arah dengan alamat tujuannya. Mia panik, apalagi Hpnya mati kehabisan batere. Bagaimana kalau dia diculik.

“STOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOP” Teriak Mia Panik.  Abang ojek menepikan motornya dan berhenti.  Apalagi orang orang banyak memperhatikan mereka. Mia turun dan berdiri di pinggir trotoar.

” Maaf ada apa ya mbak?” Tanya abang Ojek, setelah membuka helm dan maskernya.  Rupanya masih muda dan tampan.

Mia sempat terpukau sebentar “Pak, eh bang, maaf ya bikin kaget. Tapi ini kok ke arah blok m ya bang, Rumah saya kan di Pasar Minggu”

“Loh kan betul mbak, ini tujuannya ke kemang”

“Duh bukan Kemang Bang, ke  Pasar Minggu, dan saya masih muda, jangan dipanggil mbak dunk” Protes Mia, walaupun ganteng, si Abang ojek  tetap saja bikin kesal.

” Ya maaf dik, ini loh, Pesanan atas nama Maliha, Tujuan Kemang” Abang ojek menunjukkan aplikasi orderan onlinenya kepada mia.

Mia kaget, tak lama dia tertawa terbahak bahak ” Maaf bang nama abang siapa?”

“Hasan, Nama saya hasan, kok ketawa ya dik, ada apa gerangan”  Hasan heran

“Itu loh bang Hasan.  Saya ini Mia, mau pulang ke Pasar Minggu, Lah abang ini tadi harusnya menjemput kak Liha temen saya, kenapa malah ngangkut saya” Mia tiba tiba mumet.

Hasan, nama pengemudi ojek itu ikut tertawa ” Wah saya kurang konsentrasi juga ya, tadi dik Mia sudah nanya, Pasar Minggu?, saya lupa check langsung main angkut saja” 

“Nah iya, trus bagaimana bang nasib saya?” tanya Mia meminta kepastian

” Ya mau bagaimana lagi dik, saya antar sampai ke rumah dik mia saja dulu, nanti saya akan kabari teman adik yang order ojek tadi” 

Mia berpikir sebentar, lagipula HPnya mati. Dia juga tidak bisa segera mengabari Kak Liha.  Ya sudahlah, mungkin ini rezekinya, disupiri Ojek ganteng pikir Mia

Mia pun meneruskan perjalanannya di antar Hasan, yang rupanya masih berstatus mahasiswa sebuah Universitas Negeri di Depok, yang tiap sabtu dan minggu bekerja sebagai ojek online, sebagai pekerjaan sampingan.

Sementara di tempat lain, Liha masih menanti dengan setia tukang ojek online yang tadi dia pesan.  Mau menelpon menanyakan kabar, rupanya pulsanya habis.  Terpaksa daripada cancel sepihak, Liha berkomitmen akan menunggu 30 menit lagi.

Duh ojek kok tertukar…

 

 

note : Berdasarkan kisah nyata temen temenku yang tertukar ojeknya hahahah, bedanya.. mereka bukan mahasiswa usia 20an.. tapi sudah ibu ibu semua..

Advertisements

3 thoughts on “(Cerpen) Ojek yang tertukar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s